
Refleksi Tahun Baru Islam: Menjemput Ruh Mutu dan Meneguhkan Identitas SMK Muhammadiyah Sampit
Oleh: Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Muhammadiyah Sampit
(Momentum: Semburat 1 Muharram 1448 H / Juli 2026)
Ruang Aula Hotel Vivo Sampit pada pertengahan Juni lalu boleh saja telah lengang. Hiruk-pikuk pemaparan materi, tepuk tangan interaktif, dan diskusi strategi yang berlangsung intensif selama tiga hari itu kini telah bertransformasi menjadi lembaran-lembaran catatan di atas meja kerja kita. Namun, bagi saya pribadi, dan semestinya bagi kita semua yang memilih jalan hidup sebagai pendidik di SMK Muhammadiyah Sampit, keheningan pasca pelatihan justru melahirkan gaung yang jauh lebih keras di dalam dada. Pertanyaan retoris yang dilemparkan oleh Bapak Drs. H. Aunur Rofiq, M.Si., saat ruang aula mendadak gagap ketika kata “Muhammadiyah” dipekikkan, terus mengusik tidur malam saya. Mengapa kita begitu lekat dengan identitas duniawi di luar sana, namun sering kali gamang mendefinisikan ruh dari rahim persyarikatan tempat kita bernaung dan menjemput rezeki?
Momentum ini terasa kian menghujam sanubari ketika gerbang waktu mengantarkan kita pada fajar 1 Muharram. Pergantian tahun baru Islam bukan sekadar rutinitas kalender spiritual. Ia adalah sebuah proklamasi semesta tentang pentingnya hijrah, sebuah perpindahan kolektif dari zona nyaman kelalaian menuju tegaknya komitmen mutu yang hakiki. Di sinilah, selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, saya memberanikan diri menyusun untaian refleksi ini. Bukan untuk menggurui, melainkan untuk bersama-sama menatap cermin jernih, menguliti kekurangan kita di masa lalu, dan merajut kembali sajadah perjuangan demi masa depan SMK Muhammadiyah Sampit yang unggul dan berkemajuan.
1. Reorientasi Kepemimpinan dan Jantung Perubahan Kurikulum
Melalui untaian petuah berharga dari Ayahanda H. Pahri, S.Ag., M.M., kita disadarkan dengan kalimat yang begitu bertenaga: “Jangan menunggu sekolah menjadi besar untuk berubah. Berubah lah terlebih dahulu, maka sekolah akan bertumbuh menjadi besar.” Kalimat ini seakan menampar tata kelola kurikulum yang selama ini kita jalankan. Kita sering kali terjebak dalam dalih keterbatasan sarana, keterbatasan input siswa, atau minimnya anggaran untuk menunda inovasi. Kita bertindak tak lebih dari sekadar administrator pembagi jam mengajar, penyusun jadwal yang monoton, dan pengumpul tumpukan perangkat pembelajaran yang kerap kali berakhir menjadi dokumen mati di dalam lemari.
Hijrah kurikulum yang harus kita lakukan saat ini adalah mengubah paradigma mengajar menjadi paradigma mendidik yang visioner. Sebagai lokomotif akademik, bidang kurikulum di SMK Muhammadiyah Sampit tidak boleh lagi berjalan di tempat. Keterbatasan ruang praktik atau dinamika dunia industri di Kotawaringin Timur bukanlah vonis mati. Kepala Sekolah dan seluruh jajaran wakil kepala sekolah, dibersamai oleh para Ketua Program Keahlian, harus memiliki growth mindset. Kita wajib berani mendesain ulang kurikulum vokasi kita agar bernapas panjang: fleksibel terhadap zaman, adaptif terhadap ekosistem digital, namun memiliki akar tunggang yang sangat kuat pada nilai-nilai profetik Islam.
“Guru adalah jantung perubahan. Kualitas sebuah sekolah vokasi pada akhirnya tidak diukur dari megahnya mesin-mesin di laboratorium, melainkan dari sejauh mana ucapan, sikap, dan keteladanan seorang guru mampu menyalakan api rasa ingin tahu dan integritas di dalam jiwa peserta didiknya.”
2. Menghidupkan Kembali “Ruh” yang Hilang dalam Ruang Kelas
Definisi Muhammadiyah dalam Anggaran Dasar pasal 4 dan 6 yang mengulang kata “Islam” sebanyak empat kali merupakan sebuah penegasan ideologis yang mutlak. Lembaga pendidikan kita, terkhusus SMK Muhammadiyah Sampit, bukan sekadar lembaga pencetak buruh pabrik atau mekanik terampil yang kering dari spiritualitas. Sekolah kita adalah panggung dakwah amar ma'ruf nahi munkar dan tajdid
Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing: Sudahkah nilai Ismuba (Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab) menjadi ruh yang mengalir di setiap urat nadi mata pelajaran produktif, normatif, dan adaptif? Ataukah Ismuba hanya kita batasi sebagai mata pelajaran pelengkap berdurasi beberapa jam di dalam kelas, sementara di bengkel kerja, di laboratorium komputer, dan di ruang teori lainnya, kita melupakan adab, mengabaikan *Islamic leadership*, dan menjauhkan anak-anak kita dari zikir?
Hijrah spiritual di tahun baru Islam ini menuntut kita membedah visi-misi sekolah menjadi program nyata yang menyentuh keseharian siswa. Kita harus mampu "menjual ruh" sekolah kepada masyarakat. Nilai jual SMK Muhammadiyah Sampit harus terletak pada diferensiasi karakter lulusannya. Industri tidak hanya membutuhkan anak yang cerdas mengoperasikan komputer atau terampil memperbaiki mesin, tetapi mereka merindukan generasi yang jujur, disiplin mengelola waktu, hormat kepada orang tua, memiliki etos kerja tinggi, dan taat beribadah. Itulah manifestasi dari konsep pendidikan holistik yang sesungguhnya.
3. Refleksi Manajemen Ruang dan Efisiensi Mutu
Kisah sukses yang dibagikan oleh Bapak Drs. H. Aunur Rofiq, M.Si. tentang pengelolaan 1.500 siswa di atas lahan yang sangat terbatas adalah sebuah pembuktian ilmiah bahwa mutu tidak berbanding lurus dengan luas tanah, melainkan dengan keluasan cakrawala berpikir pengelolanya. SMK Muhammadiyah Sampit mungkin memiliki keterbatasan fisik, namun itu bukanlah alasan untuk menghasilkan pelayanan yang semenjana.
Mutu, sebagaimana ditegaskan dalam pendampingan lalu, bukanlah program musiman menjelang akreditasi atau kunjungan pengawas. Mutu adalah napas harian kita. Ia tercermin dari bagaimana guru piket menyambut siswa di gerbang sekolah, bagaimana kebersihan sudut-sudut kelas dijaga, bagaimana tertibnya administrasi nilai, hingga bagaimana pelayanan ramah kita berikan kepada orang tua wali murid. Di bidang kurikulum, kita harus melakukan penataan jadwal yang presisi, mengoptimalkan setiap jengkal ruang publik sebagai ekosistem belajar, dan mempercepat transformasi digital dalam pembelajaran agar batas-batas fisik sekolah tidak lagi menjadi penghalang proses transfer ilmu.
Peta Jalan Inovasi Kurikulum SMK Muhammadiyah Sampit (Mulai 1448 H):
4. Menatap Ke Depan: Komitmen Pelayanan Terbaik
Keunggulan tidak pernah dilahirkan dari rahim instan. Ia adalah buah dari kesungguhan yang dirawat secara konsisten. Ketika manajemen kurikulum berjalan dengan tertib, ketika para guru tak lelah meningkatkan kompetensi profesional dan spiritualnya, serta ketika budaya mutu telah mengakar menjadi kesadaran kolektif, maka prestasi akan hadir sebagai sebuah konsekuensi logis. Dari prestasi itulah reputasi SMK Muhammadiyah Sampit akan tegak, dan kepercayaan (*trust*) masyarakat Kotawaringin Timur akan tumbuh secara organik tanpa perlu kita manipulasi.
Melalui momentum 1 Muharram ini, mari kita bulatkan tekad untuk berbenah. Kita akhiri masa-masa mengeluh, kita kubur dalam-dalam mentalitas "sekadar menggugurkan kewajiban mengajar", dan kita nyalakan lentera perubahan di ruang kelas kita masing-masing. Jika esok hari ada yang bertanya, “Apa jawaban spontan SMK Muhammadiyah Sampit saat asma persyarikatan dipekikkan?”, maka dengan lantang dan penuh keyakinan, seluruh tindakan, peluh, dan karya kita akan menjawab: “Komitmen Mutu dan Pelayanan Terbaik!”
Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi setiap derap langkah hijrah kita, menguatkan pundak-pundak kita dalam memikul amanah ini, dan mengantarkan SMK Muhammadiyah Sampit menjadi sekolah unggul, berkarakter, dan berkemajuan di Bumi Habaring Hurung.