
Ilustrasi: Pimpinan Rantig IPM SMK Muhammadiyah Sampit
Dalam sejarah panjang perjalanan Muhammadiyah, kita menyaksikan bahwa gerakan ini tidak lahir dari kevakuman sosial, tetapi tumbuh sebagai respons cerdas dan visioner terhadap kondisi umat dan bangsa pada awal abad ke-20. KH Ahmad Dahlan tidak sekadar menggagas pembaruan keagamaan, tetapi juga menghadirkan etos berkemajuan yang melekat dalam nadi organisasi hingga hari ini. Karena itu, membangun semangat bermuhammadiyah pada era sekarang bukan semata mengulang romantisme sejarah, melainkan memastikan bahwa ide-ide pembaruan itu terus hidup, relevan, dan memberi manfaat nyata.
Muhammadiyah sejak awal bukan organisasi yang gemar mempertentangkan, tetapi menghadirkan pencerahan. Di tengah polarisasi sosial, budaya, dan politik yang sering muncul dewasa ini, kita perlu meneguhkan bahwa semangat bermuhammadiyah bukanlah semangat konflik, melainkan semangat penyelesaian. Gerakan ini berdiri untuk menguatkan, bukan melemahkan; memadukan, bukan memecah-belah; mencerdaskan, bukan mempertajam ketidaktahuan. Oleh karena itu, setiap warga Muhammadiyah semestinya merasa terpanggil untuk menampilkan wajah Islam yang ramah, objektif, inklusif, dan berorientasi solusi.
Semangat bermuhammadiyah harus pula dilandasi oleh kekuatan spiritual. Dalam berbagai kesempatan sering ditegaskan bahwa gerakan ini berakar pada tauhid yang murni. Tauhid bukan hanya persoalan teologis, tetapi juga energi moral yang mendorong umat untuk bekerja dengan ikhlas, jujur, dan amanah. Jika tauhid menjadi napas gerakan, maka Muhammadiyah akan terus melahirkan manusia-manusia unggul yang berbuat bukan untuk kepentingan diri, tetapi untuk kemaslahatan publik. KH Ahmad Dahlan menunjukkan hal ini ketika ia tidak hanya mengajarkan surat Al-Ma’un, melainkan menghidupkan kandungannya dalam tindakan.
Namun spiritualitas tidak cukup tanpa kecendekiaan. Dalam konteks inilah semangat Islam Berkemajuan menjadi orientasi penting. Dunia berubah sangat cepat, dipenuhi tantangan global seperti digitalisasi, krisis ekologi, ketimpangan ekonomi, hingga krisis kemanusiaan. Muhammadiyah harus hadir bukan sekadar sebagai penonton, tetapi sebagai aktor yang memberi arah. Sekolah-sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga filantropi, dan seluruh amal usaha Muhammadiyah harus menjadi laboratorium kemajuan. Tenaga pendidik, dokter, relawan, hingga kader muda harus menghidupkan etos ilmiah, profesional, dan inovatif. Di sinilah letak aktualisasi semangat bermuhammadiyah: bekerja secara modern, tetapi tetap berpijak pada nilai Islam.
Gerakan ini pun menuntut kesederhanaan. Muhammadiyah lahir dari sikap hidup yang lurus dan tidak berlebihan. Budaya pamer, gaya hidup konsumtif, dan kompetisi simbolik bukanlah watak persyarikatan. Sebaliknya, yang ditekankan adalah kerja nyata dan kebermanfaatan. Banyak amal usaha Muhammadiyah tumbuh dari ketulusan para perintis yang bahkan rela mengorbankan harta dan tenaga tanpa mengharapkan pujian. Warisan moral seperti ini perlu terus dirawat. Kesederhanaan bukan soal penampilan, tetapi integritas.
Pada akhirnya, semangat bermuhammadiyah harus diwujudkan dalam keberanian untuk berubah. Setiap zaman menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Jika Muhammadiyah ingin tetap menjadi gerakan pencerahan, maka ia harus terbuka terhadap ide-ide baru yang konstruktif, tanpa kehilangan jati diri. Kader dan warga persyarikatan perlu meningkatkan kapasitas diri, memperluas jejaring, dan mengembangkan kepekaan sosial. Kita tidak cukup hanya bangga dengan sejarah besar, tetapi harus menciptakan sejarah baru yang kelak dibanggakan generasi mendatang.
Bermuhammadiyah bukan sekadar menjadi anggota, melainkan menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan yang menjunjung tinggi nilai keikhlasan, keilmuan, dan kebermanfaatan. Gerakan ini tumbuh dari hati yang tulus dan pikiran yang tercerahkan. Maka tugas kita adalah terus menyalakan semangat itu—di rumah, di sekolah, di ruang publik, dan di mana pun kita berada. Jika setiap warga persyarikatan menghidupkan spirit itu, insya Allah Muhammadiyah akan terus menjadi mata air kebaikan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.
[Redaksi]